Sepotong Episode

Pegal Pundak

Posted on Updated on

Dia bercerita padaku..
“Terkadang saya merasa tidak mengenal ayahku. Siapa dan bagaimana beliau sebenarnya. Apa memang beliau bermuka dua. Kadang saya merasa takut, saya melihat ayahku berhati preman. Saya menemukan minuman beralkohol di lemari es. Saya menemukan video porno di flashdisk-nya. Terakhir beliau meminta uang dengan memaksa pada adik saya. Seperti itukah seorang ayah? Seperti itukah seorang kepala keluarga?”

Maka saya pun menjawab,
“Biar bagaimanapun beliau adalah ayahmu. Kewajiban seorang anak adalah berbakti dan mendoakannya.”

Dia berkata,
“Ya, benar. Agama kita memang memerintahkan begitu. Saya juga melihat bahwa untuk mengingatkan beliau pun tidak akan bisa. Nampaknya hatinya sudah benar-benar hitam. Sudah tidak dapat membedakan mana yang haq mana yang batil. Muncul pertanyaan, bagaimana orang tuanya mendidik ayah saya sewaktu kecil? Kenapa beliau tumbuh menjadi pribadi yang menyedihkan seperti itu.”

Saya: “Karnanya, jangan sampai kamu seperti ayahmu. Jadilah ayah yang bijak. Jadilah kepala keluarga yang hebat. Jauhilah dirimu dan keluargamu kelak dari api neraka.”

Dia: “Baiklah.”

Sepotong Episode #2

Posted on

Bunda: “Ayah, bangun dulu. Sarapan dulu, bunda udah bikinin bubur nih.”

 

Ayah mulai bergerak, bangun dari tidur sambil menghela nafas panjang.

 

Kulihat bibirnya mengucapkan sesuatu yang kurasa itu doa bangun tidur. Ayah mulai berusaha duduk. Aku pun membantu mengatur posisi bantal untuk sandaran.

 

Bunda:”Nih, Yah, minum air putih dulu.”

 

Kudekatkan sedotan ke mulutnya. Ayah pun meminumnya perlahan.

 

Ini,, kali pertama aku mendapati suamiku terbaring sakit…

 

Kesempatan baik untuk berbakti melayani semaksimal mungkin.

 

Hatiku ga karuan, kasihan melihat wajahnya yang tampak tidak bertenaga…

 

Sesekali kuusap pipinya sambil kuberdoa dalam hati. Memohon kesembuhan untuk suamiku tercinta.. :’)

 

Bunda:”Nah,, sekarang sini, bunda suapin bubur ya. :) ”

 

 

Hhh… Subuh tadi memang tidak biasanya. Suamiku mengajakku shalat berjamaah. Kutanya kenapa ga pergi ke masjid. Dia bilang ga enak badan. Saat kupegang keningnya, memang panas.. Rupanya demam..

Cepat sembuh ya sayang.. :’)

Sepotong episode #1

Posted on

“Bunda.”

“mm..? Apa, Yah?”

“lagi ngapain?”

“Lagi maen aer..”, dia bercanda, “ya lagi nyiram taman lah, Yah… ”

Aku pun senyum sendiri. Kalo dipikir2 emang pertanyaan tadi basa-basi banget… :)

Isteriku anggun.. dengan jilbabnya itu dia terlihat seperti bidadari surga yang sedang menyiram taman… :)  (padahal saya belum pernah liat bidadari)

Oiya, hampir lupa dengan maksudku…

“Ntar malam kita makan di luar yu, Bunda”

“Loh? kenapa? abis ini Bunda mau masak ko.”

“Ya, sekali-kali lah kita makan di luar. Jarang-jarang kan kita… :) ”

Tiba-tiba dia berhenti menyiram dan menatapku. Tatapan matanya seperti yang sedang keheranan. Apa ya yang sedang dia pikirkan?

“Boleh. Kemana?”

“Rahasia dong. :) ”

“Apaan sih, rahasia2an…” dia kembali menyiram taman.

waduh, ko reaksinya begitu ya? apa ada kata2 saya yang salah? Nampaknya saya menemukan satu lagi sisi lain dari isteriku ini. :)

Saya pun menghampirinya, memluknya dari belakang sambil membisikan ke telinganya,

“Ayah cuma ingin mengukir kenangan indah tentang kita berdua :) ”

Tiba-tiba dia tersenyum, sedikit tertawa geli sambil berkata,

“Iya-iya.. Abis ini Bunda siap-siap deh. :) Tapi Bunda masih penasaran, mau ke mana sih? ko pake rahasia segala?” dia membalikkan badannya ke hadapanku.

Saya agak bingung mau jawab apa. Sebenernya waktu saya bilang “rahasia” bener-bener ga direncanakan. Tiba2 aja pengen merahasiakan tempatnya.

“Ya, biar surprise atuh, Bunda…  :) ”

:) :) :)