45% Siswa SMP di Surabaya Anggap Seks Saat Pacaran adalah Wajar

Posted on

Menandai tutup tahun, masyarakat dikejutkan oleh berita tentang perilaku anak-anak kita. Kabar terbaru datang dari Kota Surabaya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan,  berhubungan seks saat berpacaran dianggap hal yang wajar, alias bukan hal tabu lagi oleh siswa/siswi sekolah menengah pertama (SMP).

Penelitian terbaru yang dilakukan Hotline Pendidikan menunjukkan, 45 persen siswa SMP menganggap hubungan layaknya suami-istri saat pacaran adalah hal wajar.

“Sungguh mengagetkan. Hasil menunjukkan 45 persen dari sampel mengaku aktivitas seksual adalah hal wajar saat berpacaran,” kata Direktur Hotline Pendidikan, Isa Ansori, Sabtu (31/12/2011) kepada hidayatullah.com.

Dalam penelitian ini, Hotline Pendidikan meneliti hampir 700 siswa dalam bentuk pembagian quisoner dan wawancara.  Penelitian dilakukan terhadap sejumlah siswa SMP di Kota Surabaya. Termasuk sekolah negeri, sekolah swasta dan sekolah berbasis keagamaan.

Penelitian bertajuk “Perilaku Berpacaran Pelajar SMP Surabaya” ini dimulai sejak September hingga November 2011. Hasilnya, selain angka 45 persen yang berpikir seks itu wajar saat berpacaran, 14 persen lainnya telah melakukan hubungan seksual.

Isa memaparkan, 41 %  responden setuju (bahkan sangat setuju) apabila pasangan remaja yang berpacaran hanya duduk dan ngobrol tanpa diselingi berpegang tangan, berpelukan dan berciuman. Mereka menganggap,  berpacaran hanya mengobrol termasuk ketinggalan zaman.

Yang menarik perilaku kebebasan ini dilakukan di mall, di tempat-tempat umum, bahkan di  sekolah.

“Ada sebuah siswa sekolah  yang dalam satu tahun bisa melakukan hubungan intim justru di lokasi sekolah,” ujarnya.

Menurut Isa, perilaku ini umumnya karena perubahan gaya hidup. Ada kesan, bagi mereka akan dianggap lebih modern jika melakukan itu.

Dari penelitian tersebut juga didapatkan data 52 persen televisi merupakan sumber informasi yang paling mempengaruhi mereka, disusul oleh teman sebaya sebanyak 42 persen, dan sisanya sumber lain seperti internet, handphone, koran/majalah dan radio.

“Dari hasil penelitian tersebut, televisi membawa pengaruh besar terhadap pergaulan dan gaya berpacaran mereka. Apalagi saat ini banyak sekali acara televisi yang tidak mendidik dan tidak bermutu,” ungkap Isa.

Lebih lanjut Isa menjelaskan, agar semakin menggalakkan komunikasi di keluarga. Sebab bagaimanapun, pendidikan di rumah itu paling inti dan nomor satu.

Ia juga mengharapkan agar lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, dan seluruh masyarakat lebih memperhatikan dan memprioritaskan pendidikan dan pembiasaaan imtaq (iman dantaqwa) serta pendidikan moral.

”Selama ini pemerintah menggaung-gaungkan pendidikan karakter, akan tetapi hal tersebut masih sebatas menjadi semboyan saja, belum masuk menjadi aktivitas yang nyata,” pungkasnya.

Ia juga berharap lembaga media, seperti televisi membuat acara yang lebih mencerdaskan, yang tak hanya mengajari remaja berperilaku negativ. Namun sebaliknya, ia juga meminta para orangtua lebih selektif memilihkan tontontan pada anak, sekaligus mendampinginya agar lebih baik.

Sebelum ini, survey yang dilakukan Indonesia Sex Survey 2011 menunjukkan tempat kos (asrama) dan rumah justru menjadi tempat favorit anak muda melakukan hubungan seks. Umumnya mereka melakukan di rumah di saat orangtua tidak ada.

hidayatullah | fimadani

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s